Strategi Memajukan Ekspor Furniture Indonesia

16 Mei 2009

Oleh: Nasir Syar’an

Pengantar

Ekspor furniture Indonesia maju, rakyat sejahtera. Mengapa? Karena industri ini

  • tergolong padat karya yang membuka lapangan kerja yang luas,
  • memiliki daya saing dibanding industri dari Negara lain, yaitu dibidang ketrampilan mengukir dan tenaga kerja murah,
  • bahan baku kayu tidak tergantung pada Negara lain dan pasar ekspor masih berpeluang luas.

Yang cukup membesarkan hati, trend ekspor furniture Indonesia pada 2003-2007 menunjukan arah positif, yakni 5,52 % (klik tabel di sini ). Dan industri ini telah menyerap banyak tenaga kerja di Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Timur dan lain-lain. Jepara yang menyumbang hanya 6 persen dari ekspor furniture nasional, bisa menyerap 49.152 orang, atau 56% dari total tenaga kerja di Jepara. Belum dihitung serapan kerja dari industri lain yang hidup dari dampak industri furniture ini (multiplier effect), seperti bahan-bahan furniture, transportasi , makanan, perhotelan, bangunan , dan sebagainya. Dengan demikian,kita bisa memperkirakan Industri ini secara nasional menyerap banyak tenaga kerja, memberikan multiplier effect yang besar, dan serta mengatasi kemiskinan.

Ekspor Furniture Indonesia (dalam US$ 000)

image

Sumber: BPS

Namun itu belum cukup. Furniture masih perlu dikembangkan lebih

Baca entri selengkapnya »


Impor Furniture Dunia 2003-2007

15 Mei 2009

City Branding "Jepara The World Carving Cneter" Ditinjau dari Aspek Ekonomi dalam Era Global

15 Mei 2009

Oleh Drs Harry Soesanto, MMR

Kabupaten Jepara dikenal sebagai kota ukir di Jawa Tengah, karena terdapat sentral kerajinan ukiran kayu. Kerajinan mebel dan ukir ini tersebar merata hampir di seluruh kecamatan dengan keahlian masing-masing. Namun sentral perdagangan terletak di wilayah Ngabul, Senenan, Tahunan, Pekeng, Pekalongan dan Jl Pemuda Jepara. Selain itu, Jepara merupakan tempat kelahiran pahlawan wanita Indonesia RA Kartini.

Industri mebel dan kerajinan merupakan industri andalan kabupaten Jepara. Industri tersebut telah menjadi tulang punggung perekonomian Jepara. Pariwisata Jepara memiliki banyak objek menarik yang dapat dikembangkan lebih baik lagi antara lain, Pantai Kartini, Bandengan dan Karimun Jawa. Karena keterbatasan APBN yang ada, maka pengembangan pun belum optimal. Selain itu, yang saat ini menarik adalaah wisata budaya dan wisata industri. Industri mebel dan ukir Jepara yang berbasis “home Industry” dan merupakan kerajinan tangan dapat pula dikembangkan menjadi wisata industri sekaligus wisata belanja produk kerajinan Jepara.

Kesadaran akan pentingnya city branding sebenarnya sudah muncul di hampir setiap kota di Indonesia. Hanya saja, aktivitas yang dilakukan masih sangat terbatas, dan tidak sedikit yang salah kaprah. Secara umum, dapat dikatakan sebagian daerah di Indoensia belum melakukan kegiatan branding yang pro aktif dan terintegrasi. Kebanyakan daerah masih terjebak pada promosi-promosi parsial dengan sekedar mengikuti kegiatan yang telah dijadwalkan secara regular, milsalnya tourism exhibition atau investment exhibition di beberapa negara. Selain itu, kelemahannnya bukan hanya dalam hal external branding activities, tetapi juga secara internal tidak cukup solid.  Apa yang dijual ke luar negeri sering tidak mencerminkan apa  yang jadi keunikan di daerah tersebut. Hal ini akhirnya membuat banyak daerah menjual sesuatu yang sudah dimiliki daerah lain.

Untuk itu, agar aktifitas branding yang dilakukan menarik dan bermanfaat, maka perlu dapat dilakukan perbandingan yang komprehensif antara kondisi eksternal dan kompetensi atau sumber daya internal yahg dimiliki. City branding haruslah esternally different dan internally inspiring, secara esternal memang berbeda dari daerah atau negara lain.  Dengan demikian, barulah kita dapat melihat bahwa negeri kita amat berbeda, unik, dan memiliki kekhasan yang unggul di tengah-tengah bangsa di dunia. seca4ra kultur memang kita berbeda, namun bukan semata-mata perbedaan kultur itulah yang memikat wisatawan mancanegara untuk datang. Melainkan sejauih mana kekhasan kultur alam dan manusia di Indonesia, khususnya di Jepara dapat memberikan pengalaman yang mengesankan (happy appealing), menghibur (entertaining) dan memberikan sesuatu yang lebih dari yang diharapkan wisatawan macanegara. Sekurang-kurangnya ada hal inti di dalamnya yang menjadi ujian kita dalam lingkup lokal membumikan city branding di tiap daerah, dalam lingkup nasional mewujudnyatakan filosofi dan tujuan country branding.  Tantangan kita adalah sejauh mana warga di tiap daerah terinspirasi atau sejauh mana warga di tiap daerah terinspirasi atau internally inspiring oleh branding daerahnya masing-masing – untuk memberikan kontribusi positif sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki untuk daerah Jepara.

Banyak keunggulan yang akan diperoleh jika suatu daerah melakukan City Branding, antara lain:

  1. Daerah tersebut dikenal luas (high awareness) disertai persepsi yang baik
  2. Dianggap sesuai dengan tujuan-tujuan khusus (specific purposes)
  3. Dianggap tepat untuk tempat investasi, tujuan wisata, tujuan tempat tinggal, dan penyelenggaraan kegiatan
  4. Dipersepsikan sebagai tempat dengan kemakmuran dan keamanan yang tinggi.

Langkah-langkah membuat city branding yang kuat:

  1. Mapping SUrvey, meliputi survey persepsi dan ekspetasi tentang suatu daerah baik dari masyarakat daerah itu sendiri maupun pihak-pihak luar yang mempunyai keterkaitan dengan daerah itu.
  2. Competitive Analysis, melakukan analisis daya saing baik di level makro maupun mikro daerah itu sendiri.
  3. Blueprint, penyusunan cetak biru atau grand design daerah yang diinginkan, baik logo, semboyan, nick name dan lain sebagainya beserta strategi branding dan strategi komunikasinya.
  4. Implementation, pelaksanaan grand design dalam berbagai media, seperti pembuatan media center, pembuatan events, iklan dan lain sebagainya.

Kabupatan Jepara memiliki city branding yang sangat kuat karena Jepara memiliki kualifikasi yang dapat dihandalkan tentang sumber daya yang ada, mempunyai sejarah, kualitas tempat pariwisata, gaya hidup, budaya dan keragaman yang menarik yang dapat dipasarkan. Oleh karean itu, Pemerintah Daerah dan masyarakat perlu melakukan city branding agar daerahnya dapat makin dikenal, sehingga pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakatnya semakin meningkat.


Trend Furniture AS 2009

15 Mei 2009

Oleh Ir,Arlinda, MA

Atase Perdagangan Washington DC, USA  2020 Massachusetts Avenue, NW, Washington DC, USA

Tahun 2009 ini konsumen Amerika menyukai produk sebagai berikut

Fungsi Produk

  • Drawer bedside table (meja laci di samping tempat tidur);
  • Wide bedside table (meja lebar di samping tempat tidur);
  • Beside table (meja biasa di samping tempat tidur);
  • Tall dresser table (lemari pakaian yang berbentuk tinggi ke atas);

image

Meja yang simple

  • Wide dresser table (lemari pakaian yang berbentuk melebar);
  • Sofa and sofa table (sofa dan mejanya);
  • End tables (meja-meja di sudut ruangan);
  • Buffet (meja buffet);
  • Chairs and table (kursi dan meja untuk di ruang tamu);
  • Desk (meja biasa);
  • Bookcase (meja tempat buku);
  • Lingerie tower (laci yang bemtuknya tinggi ke atas);
  • Bed (tempat tidur), baik dengan ukuran king, queen, full, maupun twin;
  • Side cabinet (meja kabinet yang biasa dipergunakan untuk tempat TV/ DVD);
  • Armoire (meja pakaian dengan dua pintu dan laci besar di bawah);
  • Outdoor furniture.

Bentuk dan Desain

  • Berbentuk simple atau sederhana, antique, dan mempunyai fungsi tersendiri.
  • Design yang banyak disukai lebih banyak berbentuk kotak, oval atau bulat dengan diberikan sentuhan kotak atau segitiga yang menonjol atau melengkung; tidak banyak ukirannya, namun dapat juga diberikan sentuhan ukiran atau gambar berupa bunga atau daun di beberapa sudutnya; dan pemasangan engsel-engsel pada umumnya dilakukan dari dalam serta tidak terlihat dari luar atau tidak menonjol.

image

Desain sedikit ukiran yang disukai konsumen AS

  • Bahan yang digunakan umum terbuat dari (i) kayu mahagoni karena cukup kuat, warnanya cantik dan berbentuk contemporary style, dan (ii) rattan handcrafted, karena memberikan kesan mewah dan kualitasnya long lasting.
  • Warna tahun 2009 yang akan “in “ untuk produk furniture, masih tidak berbeda jauh dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu bernuansa go green, back to natural, atau environment friendly, seperti : • Antique white (putih antik); French white/ blue/ green/ yellow (putih muda/ biru muda/ hijau muda/ kuning muda, identik dengan warna-warna yang hampir pudar dan terlihat usang atau sudah lama;• Warm mahagoni, atau coklat mahagoni yang hangat atau kemerahan atau warna merah marun;• Warna-warna natural dan terkesan tropis, seperti: brawn faux (coklat tua/pekat), hot chocolate, natural wood chocolate (coklat biasa), black forest (hitam);Masih bernuansa green, berbentuk alami atau terkesan natural, berwarna alami atau tanah.
  • Permintaan terhadap produk Furniture yang ramah lingkungan meningkat
  • Design yang bersifat contemporary banyak diminati oleh konsumen AS
  • Bentuk, bahan dan warna produk furniture disesuaikan dengan fungsi furniture tersebut. Furniture modern yang sedang trend adalah furniture yang terbuat dari aluminium atau titanium dan dikombinasikan dengan kulit atau bahan rotan sehingga tampak semi moderen.
  • Produk-produk yang unik, artistik, exotis juga masih banyak digemari konsumen AS dalam pameran ini, seperti halnya produk-produk home furnishing dari designer negara Asia yang terkesan antik, unik, natural dan tidak terlalu banyak menggunakan bahan baku dari kayu.

Trend forecast to help Indonesian SMEs

15 Mei 2009

Friday, May 15, 2009 11:37 AM
The Jakarta Post

The New Year seems like yesterday, but in the fashion world time flies faster than a supersonic jet. Agencies providing trend forecasts for the fashion industry have to race to release tip offs for boutiques, designers and individual buyers.

Here is the prediction: If you don’t already have a one-shoulder dress in your wardrobe, you had better buy an origami-style or pleated dress soon. This is going to be a hit next year.

David Landart from a leading trend forecasting agency, Carlin International, says fashion forecasting is crucial for both retail brands and exporters, because trends tell them in advance about best sellers and what buyers will be interested in – whether it’s new fabrics, new shapes or new colors.

“For factories, this is something new because they are still more *make to order’ oriented. It can help them to become more proactive instead of being only reactive.

“These days waiting for orders is waiting to die. Most factories are not price competitive with low cost countries, such China, Bangladesh and Pakistan,” Landart said.

Consequently, he said, if you cannot compete with on the price side then you have to compete on the added-value side (in creativity and design) because buyers expect their suppliers to be able to, in a limited extent, complement buyers’ collections with their own creations.

“Basically the trends lead the market and nowadays every single actor in design chains is interested by this kind of information. You design a product in order to sell it. Trends and trend books are a support tool, a market guideline for creativity.”

Irvan Noeman from Indonesian Creative Center says trend forecasts from international agencies like Carlin could help develop the products of small and medium enterprises (SMEs) in Indonesia since traditionally they have been less successful captivating international markets compared to their regional peers.

“Indonesia has around 300 ethnicities. Imagine how many designs we can decode from those,” he said.

Decoding, along with identification and translation, are the steps Carlin International uses to forecast trends.

The first step is identification, in which the agency recognizes emerging trends from existing things (not necessarily fashion related) and selects the most relevant new trends (at conceptual/lifestyle level). The designers at Carlin International later decode these trends in terms of design (colors, materials, shapes, graphics, textures and finishing) and translate them into terms of finished products for specific sectors (menswear, women’s wear etc.)

“We work on two collections a year, for spring-summer and fall-winter. It takes us five months to complete our trend book collections on colors, prints, fabrics and style books for, among others, men’s wear, women’s wear, kids wear, sports wear and lingerie,” Landart said.

Carlin International must work two years ahead because fabric suppliers need to know the trends eighteen months in advance, garment manufacturers one year ahead (same as trade fair), retail brands between six months and one year, and end users and fashion magazines three to six months ahead.

The agency has 27 offices worldwide (eight of them in Asia) and all of its 35 designers spend most of their time traveling overseas to develop collections for our customers. Consequently, the trends are neither French nor European but genuinely international with a French touch.

Irvan said that with the trend forecast, his organization would foster the top four small to medium enterprise industries (fashion, home-furnishing, crafts and food labeling-packaging) over the next two years.

After assessing SMEs, his organization would build SMEs’ capacities through workshops, prototype-making and assisting in production.

“We will also organize international expos and promotions to expand relations between SMEs and buyers.”

For more information, you can contact David Landart at david@france-design.com


Menuju Perusahaan Furniture bermerek

14 Mei 2009

Pada umumnya, perusahaan furniture Indonesia berperan sebagai pembuat produk bagi desain yang disiapkan pembeli. Peranan ini tidak memadahi nilai tambahnya dan cenderung membuat perusahaan-perusahaan furniture Indonesia bersaing harga, bahkan banting harga.

Untuk keluar dari persaingan harga ini, perusahaan furniture perlu meningkatkan nilai tambah dan merubah strategi bersaing dengan meningkatkan peranan dalam desain produk, atau dalam istilah teknisnya, bergerak dari Original Equipment Manufacturer menuju Original Design Manufacturer.

Original Equipment Manufacturer

Adalah perusahaan yang sama sekali tidak terlibat dalam desain produk. Perusahaan hanya menyediakan mesin dan tenaga kerja untuk membuat produk sesuai dengan desain pesanan pelanggan. Pelanggan di sini adalah perusahaan (value added reseller atau VAR) yang membuat desain dan menjual produk jadi.

Pada umumnya perusahaan furniture Indonesia berada dalam posisi ini. Perusahaan OEM ini akan cenderung bersaing harga di hadapan buyer. Furniture Indonesia yang OEM dan garden banyak yang jatuh karena tidak bisa bersaing dengan China, Taiwan dan Filipina yang bisa memproduksi dengan biaya murah. Untungnya Indonesia masih punya kemahiran ukir, yang sulit ditiru, sehingga banyak perusahaan yang masih bertahan. Namun, antara sesama perusahaan di Indonesia terjadi banting harga yang tidak menyehatkan iklim usaha bersama.

Untuk keluar dari persaingan harga, perusahaan furniture OEM harus mulai belajar bergerak menuju Original Design Manufacturer.

Original Design Manufacturer (ODM)

Adalah perusahaan yang mendesain dan memproduksi produk, tetapi tidak menjual dengan mereknya sendiri. Perusahaan ini menyusun gagasan awal, gambaran kasar, desain teknis hingga memproduksinya menjadi barang jadi. Barang itu kemudian dijual kepada pedagang yang mempunyai merek. Pedagang itu menjual produk tersebut dengan merek pedagang bukan merek pendesain dan produsen furniture tersebut.

Perusahaan ODM ini tidak bersaing di level harga, melainkan di level keunikan dan keunggulan produk. Harga lebih mahal masih menarik karena tidak punya pembanding. Produknya tidak sama dengan produk dari produsen lain, sehingga pembeli tidak mempunyai alternative lain.

Pada tahap ini, perusahaan juga sambil belajar untuk menyesuaikan desain dan produknya dengan standar merek yang sudah diterima pasar. Selanjutnya perusahaan perlu bergerak lebih maju lagi dengan menjadi Original Brand Manufacturer.

Original Brand Manufacturer (OBM)

Adalah perusahaan yang mempunyai ciri-ciri perusahaan sebelumnya ditambah mempunyai brand sendiri. Perusahaan OBM ini tidak menjual atas nama brand perusahaan lain, tetapi sudah mempunyai merek sendiri yang dikenal dan diterima oleh pasar.

Merek perusahaan sudah memberikan daya jual bagi produknya. Sehingga produk bisa bermain di harga yang tinggi. Pembeli akan tetap tertarik pada produk tersebut karena mereknya dianggap sudah menjamin kualitas dan kepuasan.

Dalam OBM, perusahaan furniture sudah mantap: punya karakter produk, inovasi, proses produksi yang bagus, dan pasar yang setia.. Furniture Indonesia harus bercita-cita mencapai OBM, karena cita-cita akan membantu melakukan perbaikan.


Rancangan Riset Peluang Pasar Furniture Global

14 Mei 2009

A. Ringkasan Eksekutif

Salah satu potensi ekonomi yang besar nilainya adalah industri furniture. Pada saat ekspor mengalami penurunan tajam saja, tahun 2002, industri furniture mampu menyumbang 57% dari seluruh sumbangan sektor Ekonomi di Jepara.[1] Industri ini juga punya daya serap tenaga kerja yang besar, yaitu sebesar 61% dari total tenaga kerja di sektor ekonomi swasta. Karena itu industri furniture layak menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat.

Ekspor furniture Jepara mengalami penurunan tajam sejak tahun 2000 karena tidak terjadi pembelian kembali dari pembeli pada tahun sebelumnya. Hal ini bisa membawa dampak berantai bagi perekonomian Jepara secara keseluruhan. Ada berbagai rintangan yang perlu diatasi berbagai pihak agar laju perkembangan industri furniture semakin meningkat.

Program “Penelitian Peluang Furniture Jepara dalam Pasar Global” adalah upaya untuk mengatasi sebagian hambatan perkembangan Industri Furniture Jepara, khususnya hambatan di bidang akses pasar. Tujuan umum dari program ini adalah “memulihkan perkembangan industri untuk mendukung laju pertumbuhan pembangunan ekonomi daerah yang berwawasan lingkungan. Sedangkan tujuan khusus program ini adalah pengenalan peluang pasar furniture dalam masyarakat global.

Untuk tujuan tersebut, Program ini melakukan perancangan desain penelitian, kajian tentang peluang pasar, penelusuran informasi ke berbagai sumber, termasuk ke Atase Perdagangan Indonesia di berbagai Kedutaan Besar Indonesia. Kemudian, diadakanlah analisis data yang membantu pengenalan akan peluang pasar.

Indikator kesuksesan program ini adalah tersedianya informasi akurat yang membantu meningkatnya jumlah ekspor yang menguntungkan. Informasi tersebut memperlihatkan peluang pasar, yang didukung oleh informasi demand dan supply furniture dari berbagai negara. Informasi yang lebih detail tentang wholeseller juga diperlukan untuk memperlancar aktivitas marketing furniture Jepara.

Baca entri selengkapnya »


IW Fasilitasi Ekspor Mebel Jepara ke Eropa

16 April 2009

PROBOLINGGO, KOMPAS.com – Indonesia Worldwide (IW) berkomitmen memfasilitasi pengusaha mebel di Jepara guna mengembangkan pasar ke Eropa terutama Belgia dan Luksemburg. Sebagai organisasi perkumpulan profesional Indonesia di Belgia dan Luksemburg, IW berharap jaringan yang dimilikinya dapat membantu pemasaran.

“Kami sudah membentuk perwakilan Indonesia Worldwide Jawa Tengah di Jepara. Melalui perwakilan ini kami berharap akan terbentuk jaringan pengusaha yang berorientasi ekspor ke Eropa,” kata Direktur IW Florentinus Suryo Susilo saat dihubungi di Yogyakarta, Kamis (16/4).

Perwakilan IW Jawa Tengah itu, menurut Florentinus, di bentuk pada 8 April di Jepara. Adapun koordiantornya adalah Direktur Utama PT Sarana Niaga M Kurniawan.

Menurut Kurniawan, banyak pengusaha meubel di Jepara yang tidak tahu tentang pasar Er opa yang sebenarnya sangat potensial. Hal ini terjadi akibat minimnya informasi dan tidak adanya jaringan di Eropa.

“Saya berharap dengan jaringan IW ini, pengusaha mebel di Jepara bisa mulai masuk ke pasar Eropa. Peluang-peluang bisnis seperti Eropa tentunya sangat kami butuhkan apalagi kondisi ekspor meubel Jepara secara umum sedang turun sampai 50 persen,” kata Kurniawan.

IW, menurut Florentinus, diharapkan dapat menyediakan informasi tentang pasar meubel di Eropa. Selanjutnya, melalui jaringan yang dimilikinya, IW dapat menjembatani pengusaha meubel Jepara dengan pembeli di Eropa. Sebagai langkah awal, IW melalui perwakilannya di Jawa Tengah tengah menyosialisasikan jejaring tersebut kepada pengusaha mebel di Jepara.

IW terbentuk di Brussel, Belgia, pada 2 November 2008. Misi utamanya adalah berpatisipasi meningkatkan hubungan Indonesia dan Belgia-Luxemburg. Selain itu, organisasi nonpolitik ini juga berfungsi sebagai sarana komunikasi antar anggotanya.

Kompas


Memasarkan Produk Jepara Melalui Internet

5 Maret 2009

Oleh: Nasir Syar’an, SIP*

Pengguna internet Jepara kini semakin banyak. Ini bisa dilihat dari tumbuhnya pengunjung warnet di Jepara. Warnet di Jepara sekarang bertambah banyak, tetapi masing-masing warnet tidak makin sepi, malah semakin banyak. Kehadiran internet gratis melalui fasilitas hotspot di Perpustakaan Daerah dan alun-alun Jepara juga tidak mengurangi minat pengunjung warnet.

Di lihat dari kepentingan Jepara yang membutuhkan sistem pemasaran produk-produknya, gejala ini patut disyukuri. Karena gairah untuk menggunakan internet bisa menjadi batu loncatan untuk melakukan pemasaran lewat internet. Pemasaran dengan menunggu pembeli atau broker datang ke showroom di Jepara tidak bisa terus diandalkan. Tidak saja karena omsetnya tidak memadahi, tetapi juga harga akan cenderung jatuh, karena pembeli punya pembanding harga yang jauh lebih banyak.

Pembeli juga akan paham, dari banyak penyedia produk ini di Jepara, pasti ada yang sedang butuh uang mendesak, yang kemudian membanting harga.

Sementara itu, harga untuk produk yang sama di toko retail Eropa dan amerika lebih mahal 5-10 kali lipat dibandingkan dengan harga di Jepara. Artinya dengan semakin mendekati pembeli akhir, peluang pasar terbuka lebih lebar dan lebih mahal.

Pemasaran melalui internet bisa menjadi salah satu upaya untuk mendekat ke pelanggan. Diharapkan peluang pasar lebih besar, dan harga lebih bagus. Melalui internet, terbuka peluang untuk memperkenalkan dan berkomunikasi secara interaktif dengan calon buyer

Baca entri selengkapnya »


Data Ekspor Furniture Indonesia

16 Januari 2009

Berikut ini adalah tabel Ekspor Furniture Indonesia 2003- Juli 2008 Ekspor Furniture Indonesia